Ku terpaku
di depan kertas
Kertas yang
hanya bisa dilihat
Tanpa bisa
menyentuhnya
Ingin hati
segera memberikan goresan
Tentang tanah
kelahiran
Namun
Sungguh
Entah kemana
entah kenapa
Isi kepala
hilang segera
Begitu sesal
diri
Desa yang ku
tinggali
Ingin sekali
dalam benak
ku tumpahkan
ke dunia
Yang tak
mengenal temu muka
Namun segera
selalu terhenti
Diawali dengan
satu alinea
Pun diakhiri
dengan itu
Tangan tak
mau diam
Sungguh
Tuk jalan, akal
pun enggan