Senin, 10 Oktober 2011

Resah


Ku terpaku di depan kertas
Kertas yang hanya bisa dilihat
Tanpa bisa menyentuhnya

Ingin hati segera memberikan goresan
Tentang tanah kelahiran
Namun
Sungguh
Entah kemana entah kenapa
Isi kepala hilang segera

Begitu sesal diri
Desa yang ku tinggali
Ingin sekali dalam benak
ku tumpahkan ke dunia
Yang tak mengenal temu muka
Namun segera selalu terhenti

Diawali dengan satu alinea
Pun diakhiri dengan itu
Tangan tak mau diam
Sungguh
Tuk jalan, akal pun enggan